Skip to main content

Posts

Showing posts from April, 2014

Home School Activity #1

Awalnya, tidak ada niat sedikitpun untuk HS (Home Schooling). Saya dan suami tadinya ingin menyekolahkan Nayfah di Play Group agar dia bisa bermain dengan teman-teman sebayanya. Namun saya mendadak berubah pikiran saat berkunjung ke rumah seorang kerabat yang anaknya baru saja masuk TK. Dengan bangganya, dia bercerita bahwa anaknya sudah bisa baca-tulis. Dia juga memperlihatkan buku seperti LKS. Saya pun menelan ludah. Setahu saya, anak-anak di bawah 7 tahun tidak seharusnya dicekoki pelajaran membaca dan berhitung. Usia di bawah tujuh tahun, seharusnya anak-anak masih dibebaskan bermain dan mengeksplorasi apa yang ada di sekitar mereka tanpa harus menekannya untuk menghafal huruf A, B, C, atau menghitung 1+1=2. Bisa stress anak itu, kalau membaca dan berhitung bukan hobinya. Belum lagi kalau tidak bisa mengerjakan soal dan dimarahi oleh ortunya. Hayo... adakah pembaca yang memarahi anaknya jika si anak lambat atau tidak bisa mengerjakan suatu soal? I don't want my daughter to

Anak dan Pembentukan Karakter

Miris sekali membaca berita tentang anak kelas 1 SD yang tewas karena dikeroyok teman-teman sekelasnya. Cuplikan beritanya bisa dibaca disini . Masyarakat pun terbelalak. Siapa orang tuanya? Kok bisa anak-anak kecil bertindak sedemikian brutal? Bahkan ada wacana bahwa Indonesia dalam keadaan ”darurat pendidikan anak” dan harus ada seorang menteri yang khusus menangani masalah ini. Benarkah demikian? Tindakan brutal anak tidak hanya dipengaruhi satu atau dua faktor. Ada banyak sekali faktor yang membentuk perilaku dan sifat anak. Pertama, orang tua . Siapa yang setiap hari menjaga anak, mengawasi setiap tingkah lakunya, dan bertanggung jawab sebagai pendidik utama? Jawabannya mutlak: ORANG TUA! Sayangnya, sudah menjadi rahasia umum di negeri kita ini bahwa orang tua mendidik dengan cara kasar itu adalah hal yang ”diwajarkan”. Mengapa saya bilang ”diwajarkan”? Karena sebenarnya itu TIDAK WAJAR, namun dianggap biasa oleh masyarakat. Sering saya melihat orang t

NIMREC

Ada yang tahu apa arti judul di atas? Sebelum saya beritahu, silakan baca tulisan ini dulu: Entah sudah kesekian kalinya (karena terlalu sering), saya menjumpai ibu yang mengeluh tentang anak-anaknya. Mayoritas mereka mengatakan, "Anak saya ini begini-begitu, nakalnya minta ampun," dan lain sebagainya. Ironisnya, mereka mengatakan itu di depan anak-anak mereka. Saya hanya tersenyum. Kenapa? Karena sebenarnya mereka sedang memberitahu saya tentang keburukan-keburukan mereka sendiri. Anak adalah cermin orang tua. Kalau orang tua merasa ada sesuatu yang salah dengan anak mereka, introspeksi diri adalah jawabannya. Anak-anak itu aslinya polos. Orang tua dan lingkunganlah yang mewarnai mereka. Baik dalam sisi karakteristik, temperamen, dll. Misalkan begini: Anda bercermin, lalu melihat bayangan di seberang sana memiliki jerawat merah. Apa yang akan anda lakukan? Mengambil batu lalu menghancurkan cermin itu? Atau membuangnya ke tempat sampah? Tidak, itu bukan solusi. Jalan

Ummi, Jangan Lepas Kerudungku

Tepat seminggu yang lalu, kami berkunjung ke rumah kerabat di Tangerang. Sudah lama Nayfah tidak bertemu sepupu-sepupunya. Saat itu kami datang di waktu yang "salah", karena ternyata siang itu ada jadwal fogging di rumah mbak Warna, kerabat saya itu. Suara mesin fogging menunjukkan bahwa tak lama lagi mereka tiba. Jadi kami hanya duduk-duduk di teras rumah.  Matahari bersinar terik, panasnya menyengat sekali. Saya berkeringat. "Ummi, Nay keringetan..." kata Nayfah sambil berdiri di depan kursi tempat saya duduk. Saya pikir dia ingin saya membuka kerudungnya. Segera saya buka. "Jangan, Ummi, jangan... Nay malu!" Katanya sambil membenamkan wajah ke pangkuan saya. "Nggak apa-apa dilepas dulu kalo Nay keringetan, " jawab saya. "Jangan, Ummi... Nay malu," katanya lagi, dengan muka merah dan mata berkaca-kaca. Terenyuh hati saya.. Ternyata anak sekecil Nayfah bisa merasa malu saat auratnya terlihat sepupu-sepupu mungilnya. Na