Saturday, April 5, 2014

Anak dan Pembentukan Karakter


Miris sekali membaca berita tentang anak kelas 1 SD yang tewas karena dikeroyok teman-teman sekelasnya. Cuplikan beritanya bisa dibaca disini.

Masyarakat pun terbelalak. Siapa orang tuanya? Kok bisa anak-anak kecil bertindak sedemikian brutal? Bahkan ada wacana bahwa Indonesia dalam keadaan ”darurat pendidikan anak” dan harus ada seorang menteri yang khusus menangani masalah ini. Benarkah demikian?

Tindakan brutal anak tidak hanya dipengaruhi satu atau dua faktor. Ada banyak sekali faktor yang membentuk perilaku dan sifat anak.



Pertama, orang tua. Siapa yang setiap hari menjaga anak, mengawasi setiap tingkah lakunya, dan bertanggung jawab sebagai pendidik utama? Jawabannya mutlak: ORANG TUA! Sayangnya, sudah menjadi rahasia umum di negeri kita ini bahwa orang tua mendidik dengan cara kasar itu adalah hal yang ”diwajarkan”. Mengapa saya bilang ”diwajarkan”? Karena sebenarnya itu TIDAK WAJAR, namun dianggap biasa oleh masyarakat.

Sering saya melihat orang tua yang seenaknya saja memukul anaknya ketika si anak melakukan kesalahan-kesalahan. Jangankan melakukan kesalahan, mereka tidak mau makan saja dipukul. Menurut saya, sangat tak pantas seorang ibu/ayah memukul anaknya hanya karena anaknya tak mau makan. Ayolah, kita berpikir jernih sejenak. Keadaan lambung setiap orang berbeda-beda, termasuk anak. Ada anak yang pencernaannya bagus dan bisa mencerna makanan sebanyak apapun, dan ada juga anak-anak yang nafsu makannya rendah. Biasanya, para ortu membandingkan anaknya dengan anak-anak lain yang makannya lebih banyak. Akhirnya apa? Anak menjadi pelampiasan emosi orang tua.

Marah itu tidak mendidik. Marah adalah cara kita melampiaskan emosi.

Anak yang dibiasakan dengan kekerasan akan membuat mereka merasa benar ketika mereka juga melakukan hal itu. Anak-anak masih belum bisa berpikir panjang.
”Mama boleh memukul, kenapa aku tidak?” itulah yang ada di pikiran mereka.

Saya ambil sebuah pembanding, tentang anak saya Nayfah. Cobalah tanya dia, dicubit itu seperti apa? Maka dia akan melongo karena tidak tahu seperti apa dicubit. Dipukul itu seperti apa? Dia pun tak tahu, karena sejak lahir dia tak pernah mengetahuinya. Jangankan berbuat kasar pada orang lain, bentuk “cubit” dan “pukul” saja dia tidak mengerti.
Saya harap anak-anak dari pembaca juga sama seperti Nayfah.
 
Faktor kedua, lingkungan. Tempat bermain anak-anak adalah faktor terbesar kedua dalam pembentukan karakter. Pernahkah anda mendengar hadits berikut ini:

Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR. Bukhari 5534 dan Muslim 2628)

Sama halnya dengan yang terjadi pada anak-anak kita. Untuk mengetahui baik buruknya lingkungan bermainnya, tentu kita harus menemani mereka.
Menemani anak bermain itu penting, karena saat bermain, anak-anak bisa saja mendapat sugesti positif atau sugesti negatif.

Misalnya, ada teman anak kita yang berkata kotor, kita bisa segera menegurnya. Atau jika ada teman anak yang berkata ”Terima kasih, maaf, permisi”, dan kata-kata positif lainnya, jangan ragu untuk memuji mereka. Anak kita akan belajar dari apa yang dilihat dan dialaminya. Jika kita menegur anak yang berkata kotor, anak kita akan tahu bahwa kita tidak menyukai hal itu. Begitu pula sebaliknya.

Pembahasan faktor Lingkungan ini akan saya lanjutkan pada posting berikutnya.
 

No comments: