Skip to main content

Home School Activity #1

Awalnya, tidak ada niat sedikitpun untuk HS (Home Schooling). Saya dan suami tadinya ingin menyekolahkan Nayfah di Play Group agar dia bisa bermain dengan teman-teman sebayanya. Namun saya mendadak berubah pikiran saat berkunjung ke rumah seorang kerabat yang anaknya baru saja masuk TK. Dengan bangganya, dia bercerita bahwa anaknya sudah bisa baca-tulis. Dia juga memperlihatkan buku seperti LKS.

Saya pun menelan ludah. Setahu saya, anak-anak di bawah 7 tahun tidak seharusnya dicekoki pelajaran membaca dan berhitung. Usia di bawah tujuh tahun, seharusnya anak-anak masih dibebaskan bermain dan mengeksplorasi apa yang ada di sekitar mereka tanpa harus menekannya untuk menghafal huruf A, B, C, atau menghitung 1+1=2. Bisa stress anak itu, kalau membaca dan berhitung bukan hobinya. Belum lagi kalau tidak bisa mengerjakan soal dan dimarahi oleh ortunya. Hayo... adakah pembaca yang memarahi anaknya jika si anak lambat atau tidak bisa mengerjakan suatu soal?

I don't want my daughter to be depressed just because her parents wants "the best education" for her.
Pendidikan yang terbaik untuk anak, bukan yang terbaik menurut ortu saja. Anak juga harus dilibatkan. Biarkan mereka mengekspresikan perasaannya, bebaskan mereka untuk mengatakan, "Aku nggak suka belajar ini, aku sukanya belajar itu."
Ikuti saja apa yang disukainya, terus bimbing tanpa memaksakan kehendak.

Belajar itu paling enak kalau kita enjoy. Iya, nggak?

Nah, pilih-memilih semacam ini tidak bisa anda lakukan jika anak terikat dengan sekolah formal. Kenapa? Karena guru dan instansinya sudah punya kurikulum (yang menyamaratakan kemampuan anak), dan ada target-target yang harus dicapai dalam tiap pertemuan.

Bagaimana jika anak kita tak bisa mengikuti salah satu pelajarannya dan tertinggal dari anak-anak lain? Saya rasa tak usah saya jawab, anda tahu jawabannya. Biasanya ortu akan membandingkan dengan anak lainnya. Parahnya, hal ini bisa membuat anak merasa dirinya bodoh karena tidak bisa seperti teman-teman sekelasnya.

Ada sebuah kutipan dari Albert Einsten, yang seluruh manusia sepakat dia jenius, mengatakan:
"Everybody is genius. But if you judge a fish by its ability to climb a tree, it will leave its whole life believing that it is stupid."
Jika di-Indonesia-kan: "Setiap orang adalah jenius. Namun jika anda menilai seekor ikan berdasarkan kemampuannya memanjat pohon, maka ikan itu akan selamanya menganggap dirinya bodoh."

Benar, kan?

Jadi, saya mencoba untuk mengetahui minat belajar Nayfah. Saya belikan flash card beberapa box, yang berisi huruf kapital dan contoh pemakaiannya (Misalnya: huruf A bergambar Apel, huruf B bergambar becak, dst). Saya juga mengajak Nayfah bermain dengan buku gambar dan kertas origami. Hasilnya? Ini dia:

Saat bermain flashcard, Nayfah hanya tertarik di hari pertama dia membelinya. Hari kedua diambil sebentar, hanya bermain sekitar 5 menit, lalu dibiarkan begitu saja.

Berbeda dengan menggambar. Dia betah berjam-jam duduk di meja untuk menggambar apapun. Bahkan kadang seharian menggambar terus. Lupa dengan TV dan tablet.
"Wow, my daughter is interested to art," pikir saya.

Lalu saya mencoba "memancingnya" dengan kegiatan lain. Membuat clay dan menghiasnya. Ini karena Nayfah suka mengerjakan pekerjaan rumah tangga, termasuk memasak. She loves it much!

Ini dokumentasinya:



Melihatnya senang bermain clay, saya pun bahagia. Ini bukan semata bermain, tetapi juga melatih keterampilannya. Belajar tak harus duduk di bangku, mendengar penjelasan guru dan meniru apa yang dicontohkannya, kan?

Pada intinya, home schooling mengajak anak untuk mencintai belajar. Tak perlu ada paksaan. Cukup beri mereka media belajar, biar mereka pilih sendiri mana yang mereka suka. Lalu kita sebagai orang tua membimbingnya.
Home schooling diartikan sebagai "sekolah rumah". Sekolahnya di rumah, dan yang menjadi pendidik utama adalah orang tua. Berikan waktu kita untuk anak-anak, fokus pada mereka, tunjukkan bahwa kita senang belajar bersama mereka :)


Tambahan:
Adonan clay dibuat dari terigu, garam, dan sedikit air. Takarannya kira-kira saja. Garam berfungsi sebagai pengawet alami. Setelah dibentuk, keringkan clay dengan cara diangin-anginkan atau dioven sekitar 5-10 menit dengan panas sedang.


Comments

Popular posts from this blog

Crochet Toddler Dress Pattern

Hello, there!  Since there were many people asking me for the written pattern, I translated the pattern to a pdf (consisting diagrams, written pattern and step-by-step tutorial). Here are the pattern:   Crochet Toddler Dress Pattern Translated by Novelia Ummu Nayfah (La Léh Crochet)  Materials: Bali cotton yarn in green (2 cakes of @100 grams), white (2 cakes  of @100 grams), and small amount of yellow. FYI, the texture of bali cotton yarn looks like bamboo yarn. You may use other sport-weight yarns. Hook: 4/0 Tulip Etimo Rose hook (2.50 mm) Thread and sewing needle (you may use hot-melted glue) Synthetic flowers (you may use  this flower  as accessory) Stitches: Slip stitch (sl st) Chain (ch) Single Crochet (sc) Double crochet (dc) 2dc, ch 2, 2dc  shell 5dc  solid shell Rep: repeat Beg: beginning dc2tog dc3tog Finished size: Waist (circle)  :           21.5" Length             :           22" *This is approxima

Karakteristik Benang Rajut

Di Indonesia, benang yang paling popular adalah benang acrylic wool , atau yang lebih familiar disebut “benang siet”. Namun, sebenarnya jenis benang sangat bervariasi. Berikut diantaranya: 1.       Benang katun ( Cotton yarn ) Sesuai namanya, benang yang umum digunakan oleh para pemula ini terbuat dari serat kapas. Benang katun bersifat dingin, mudah menyerap keringat, lentur, kuat, ringan, dan memiliki banyak varian warna. Benang ini termasuk “benang multiproject ”, karena bisa digunakan untuk berbagai macam jenis rajutan. Misalnya, bros, bandana, pinggiran kerudung, syal, tatakan gelas, tas, sepatu, sandal, dan sebagainya. Berdasarkan varian warnanya, benang katun dibagi menjadi dua kelompok, yaitu plain (polos) dan ombre (warna sembur/gradasi). Tingkat kehalusannya pun berbeda-beda antara jenis benang katun yang satu dengan yang lain. Soft cotton , misalnya, adalah yang paling halus diantara benang berbahan dasar kapas. Sementara itu, satu tingkat di bawahnya, ada katun b

Bagaimana Menghitung Harga Rajutan?

Bagaimana sih, menentukan harga untuk hasil rajutan kita? Perajut A harganya sekian, perajut B sekian, sedangkan perajut lainnya sampai X, Y, Z harganya juga berbeda. Nasehat saya: jangan pernah menjadikan harga orang lain sebagai patokan. Takut kalah saingan dengan yang menjual dengan harga murah? Padahal mungkin saja mereka baru bisa merajut. Jadi, harga dibuat semurah mungkin supaya cepat balik modal dan mereka bisa terus merajut.Bisa juga karena mereka memproduksi secara massal, dengan mengupah orang lain dengan gaji sangat rendah. Hasilnya? Anda bisa melihat rajutan-rajutan yang dijual di pasar yang harganya amat sangat murah sekali. Hingga orang-orang akan berpikir, "Untuk apa susah-susah membuat bros rajut jika kita bisa membelinya di pasar dengan harga Rp.2.000 per buah?" Beberapa perajut juga menetapkan harga tinggi. Biasanya, mereka adalah perajut-perajut yang sudah punya ”jam terbang” tinggi dan kualitas produknya memang bagus, sehingga orang