Skip to main content

Home School Activity #3: Cutting and Sticking

Sebenarnya ini sudah dibahas di posting sebelumnya, tentang pengenalan bentuk dan warna. Namun, kali ini saya post lagi foto yang pertama, karena akan ada relasi dengan kativitas gunting-tempel berikutnya.


Pada aktivitas gunting-tempel di atas, saya menggambar pola di balik kertas origami, lalu meminta (meminta lho ya, bukan menyuruh) Nayfah mengguntingnya. Meminta sangat berbeda dengan menyuruh. Kalau menyuruh, kita menyuruh anak kita untuk melakukan sesuatu. Suka atau tidak, anak harus melakukan perintah orang tua. Sedangkan "meminta" pada dasarnya akan dilakukan jika anak bersedia melakukannya.
Sangat berbeda kesannya antara kalimat, "Gunting kertas ini sesuai pola!" --> kalimat perintah
dengan kalimat, "Nayfah mau bantu Ummi? Kertas ini harus digunting sesuai pola,"

Bagaimana kesannya? Yang lebih enak di hati pasti option yang kedua.

Pada HS activity kali ini, tujuan saya untuk melatih Nayfah menggunakan gunting, agar hasil guntingannya semakin rapi dengan mengikuti pola yang sudah saya gambar. Oya, saya menggambar satu pola untuk satu warna kertas origami. Misalnya persegi menggunakan warna biru, segi tiga warna merah, dsb. Semakin banyak penggunaan warna, semakin bagus.

Lalu, mari kita beranjak ke cutting & sticking kedua. Jika pada aktivitas sebelumnya lebih ditekankan pada kerapian Nayfah dalam menggunting, kali ini saya ingin dia terampil menempel. Saya menggunakan 2 lembar kertas concorde putih. Kertas pertama saya print berwarna, sedangkan kertas kedua hanya ada gambar bentuk saja, warna hitam-putih.

Kertas yang tanpa warna digunakan sebagai media untuk menempel, sedangkan kertas yang full color saya gunting sesuai bentuk. Pertama kali mencoba, seperti inilah hasil belajar Nayfah:


Lumayan rapi menurut saya, karena dari 12 gambar bentuk, hanya dua yang sedikit kurang rapi :)

Comments

Popular posts from this blog

Crochet Toddler Dress Pattern

Hello, there!  Since there were many people asking me for the written pattern, I translated the pattern to a pdf (consisting diagrams, written pattern and step-by-step tutorial). Here are the pattern:   Crochet Toddler Dress Pattern Translated by Novelia Ummu Nayfah (La Léh Crochet)  Materials: Bali cotton yarn in green (2 cakes of @100 grams), white (2 cakes  of @100 grams), and small amount of yellow. FYI, the texture of bali cotton yarn looks like bamboo yarn. You may use other sport-weight yarns. Hook: 4/0 Tulip Etimo Rose hook (2.50 mm) Thread and sewing needle (you may use hot-melted glue) Synthetic flowers (you may use  this flower  as accessory) Stitches: Slip stitch (sl st) Chain (ch) Single Crochet (sc) Double crochet (dc) 2dc, ch 2, 2dc  shell 5dc  solid shell Rep: repeat Beg: beginning dc2tog dc3tog Finished size: Waist (circle)  :           21.5" Length             :           22" *This is approxima

Karakteristik Benang Rajut

Di Indonesia, benang yang paling popular adalah benang acrylic wool , atau yang lebih familiar disebut “benang siet”. Namun, sebenarnya jenis benang sangat bervariasi. Berikut diantaranya: 1.       Benang katun ( Cotton yarn ) Sesuai namanya, benang yang umum digunakan oleh para pemula ini terbuat dari serat kapas. Benang katun bersifat dingin, mudah menyerap keringat, lentur, kuat, ringan, dan memiliki banyak varian warna. Benang ini termasuk “benang multiproject ”, karena bisa digunakan untuk berbagai macam jenis rajutan. Misalnya, bros, bandana, pinggiran kerudung, syal, tatakan gelas, tas, sepatu, sandal, dan sebagainya. Berdasarkan varian warnanya, benang katun dibagi menjadi dua kelompok, yaitu plain (polos) dan ombre (warna sembur/gradasi). Tingkat kehalusannya pun berbeda-beda antara jenis benang katun yang satu dengan yang lain. Soft cotton , misalnya, adalah yang paling halus diantara benang berbahan dasar kapas. Sementara itu, satu tingkat di bawahnya, ada katun b

Bagaimana Menghitung Harga Rajutan?

Bagaimana sih, menentukan harga untuk hasil rajutan kita? Perajut A harganya sekian, perajut B sekian, sedangkan perajut lainnya sampai X, Y, Z harganya juga berbeda. Nasehat saya: jangan pernah menjadikan harga orang lain sebagai patokan. Takut kalah saingan dengan yang menjual dengan harga murah? Padahal mungkin saja mereka baru bisa merajut. Jadi, harga dibuat semurah mungkin supaya cepat balik modal dan mereka bisa terus merajut.Bisa juga karena mereka memproduksi secara massal, dengan mengupah orang lain dengan gaji sangat rendah. Hasilnya? Anda bisa melihat rajutan-rajutan yang dijual di pasar yang harganya amat sangat murah sekali. Hingga orang-orang akan berpikir, "Untuk apa susah-susah membuat bros rajut jika kita bisa membelinya di pasar dengan harga Rp.2.000 per buah?" Beberapa perajut juga menetapkan harga tinggi. Biasanya, mereka adalah perajut-perajut yang sudah punya ”jam terbang” tinggi dan kualitas produknya memang bagus, sehingga orang