Monday, June 16, 2014

Home Schooling: Gurunya siapa?



Ada satu pertanyaan yang rupanya kini sedang menjadi tren di masyarakat. Jika bertemu anak-anak, hampir selalu, mereka bertanya, “Sekolahnya dimana?” Sepertinya, yang bisa membuat anak menjadi pintar adalah sekolah. Coba saja perhatikan, kalau ada anak pintar, pasti orang-orang akan bertanya seperti itu dengan maksud ingin menyekolahkan anak-anak mereka di sekolah yang sama.
Wow… saya melihat gejala “revolusi pemikiran” disini. Para orang tua rupanya lebih cenderung berpikir praktis tentang pendidikan. Ingin anak menjadi pintar? Masukkan saja ke sekolah internasional! Atau ke sekolah favorit yang biayanya masih masuk akal walau peluang diterima hampir 0%.

Guru pun dianggap “dewa ilmu” yang tanpa dirinya anak-anak manusia tak akan bisa mendapat “pencerahan” untuk kehidupan. Terlalu berlebihan? Tidak, menurut saya. Masyarakat sekarang cenderung ingin yang praktis. Pernah melihat anak-anak SD les matematika? Saya pernah, dan terlalu sering. Padahal, jika kita telisik lagi, serumit apa sih, pelajaran anak kelas satu atau dua SD? Masa ibu atau ayahnya tidak bisa berhitung sama sekali? Tentu saja bisa. Tapi satu yang mereka inginkan: praktis!

Ada satu hal yang membuat miris, ketika saya berbincang dengan seorang ibu yang mengursuskan putrinya ke sebuah lembaga kursus matematika. “Biar bisa cepat calistung, mbak,” katanya.
“Pelajaran kelas satu rumit sekali ya, Bu, sampai harus kursus?”
“Nggak juga, sih… paling-paling cuma tambahan dan kurangan.”
“Kenapa nggak diajari sendiri, Bu?” Tanya saya.
”Waduh… males, mbak. Saya ini nggak telaten ngajari anak. Bisa-bisa saya marahin kalau nggak ngerti,” Jawabnya dengan diiringi tawa nyaring khas ibu-ibu.
Saya diam.

Nah, ini masalahnya. Banyak orang tua yang tak mau belajar. Bukan belajar matematika, tetapi belajar mengelola emosi dan belajar berpikir dengan cara piker anak-anak mereka. Seringkali orang tua marah ketika anaknya tak bisa mengerjakan ini-itu. Kenapa? Karena mereka membandingkan dengan diri mereka sendiri! Hellooowww… emak-emak keren, mungkin kita bahkan lebih buruk dari anak-anak kita ketika kita seumuran mereka!

Dan tentang jarimatika, calistung, atau apalah itu. Banyak buku yang mengulas tentang  tekniknya. Namun, sekali lagi, orang tua ingin yang praktis. Daripada belajar jarimatika, mending masukkan anak ke lembaga kursus. Kita terima beres. Betul, ibu-ibu?
Tapi saya tidak setuju. Ayolah orang tua, belajarlah… dan belajar dengan anak itu sangat menyenangkan. Believe me! Dengan belajar bersama, bonding antara ibu dan anak lebih erat.

Jangan salahkan anak-anak anda jika ketika mereka beranjak remaja, mereka lebih memilih curhat-curhatan dengan teman sebayanya daripada dengan orang tuanya. Kenapa? Karena bonding-nya lemah. Anak cenderung mencari orang yang lebih bisa mengerti mereka.

Baiklah, cukup membahas tentang guru dan orang tua. Kembali ke “Sekolahnya dimana?”
Pertanyaan itu pun berulang-ulang saya dengar, setiap kali bertemu dengan orang-orang yang tertarik dengan Nayfah. “Sekolahnya dimana?”
“Alhamdulillah home schooling,” jawab saya. Dan, lagi-lagi, satu pertanyaan yang selalu ditanyakan setelah jawaban itu: “Gurunya siapa?” Hadeuh… lagi-lagi, guru adalah dewa ilmu yang menjadi satu-satunya sumber pengetahuan anak.

Ketika saya menjelaskan bahwa sayalah yang mengajari anak saya, mereka menampakkan wajah sangsi. Mungkin mereka pikir, bagaimana bisa seorang ibu rumah tangga mengajari anaknya? Hehehe… Dan saya tak pernah memberitahu mereka bahwa saya pun dulu seorang pengajar. Saya hanya ingin meluruskan cara pandang masyarakat tentang pendidikan.

Yang lebih parah? Ada! Saat ke pasar, ada seorang penjual sayur yang nge-fans banget sama Nayfah. Kalau beli sayurnya barenga Nayfah, kadang saya bisa berbelanja dengan setengah harga ^_^
“Adek, pinter banget sih… sekolahnya dimana?” Tanya si ibu penjual sayur. Karena Nayfah sibuk melihat-lihat sayur, maka saya yang menjawab.
“Home schooling, Bu.”
“Oh... Bagus yah? Dimana itu?” tanyanya.
“Di rumah,”
“Wah, enak ya rumahnya dekat sekolah. Pantesan anaknya pinter,” kata ibu itu lagi.
Dan saya hanya melongo, tak tahu harus berkata apa. Berhubung banyak pembeli, saya tak sempat menjelaskan apa home schooling itu.

Yeap, beralih ke pembahasan selanjutnya: “Gurunya dipanggil ke rumah? Berapa bayarnya?”
Fyuh... ini termasuk “daftar pertanyaan wajib” yang selalu saya dengar dari orang-orang. Mereka pikir, home schooling a.k.a. sekolah rumah itu berarti memindahkan sekolah ke rumah, termasuk gurunya. Mereka pikir HS menggunakan kurikulum yang sama, namun dengan gaya yang lebih santai –di rumah— dan biaya yang lebih mahal (karena harus menggaji guru privat).

Tidak, ibu-ibu...HS bukan seperti itu. Di posting berikutnya akan saya jelaskan tentang ini.

No comments: