Skip to main content

Main Masak-masakan a la Nayfah

Aduk terus ^_^
  Hi, Moms! Si kecil suka main masak-masakan? Daripada pakai clay, kenapa tidak mencoba membuat sesuatu yang benar-benar bisa dimakan? Nayfah suka memasak. Dia sudah mulai terampil mengocok telur, mengaduk tepung dengan adonan, menguleni, menggiling, dan mencetak.

Bikin adonan pancake, biasanya dimakan dengan olesan madu.
  Memang, hasilnya tak sebagus bikinan orang dewasa. Tapi beneran seru lho Moms, seru banget! Kotor, berantakan, itu pasti. Kadang pusing juga sih, kalau melihat rumah berantakan, tepung bertebaran di dapur, mainan bertebaran di ruang tamu, buku berserakan di kamar, dan sebagainya. Tapi kalau melihat Nayfah dengan wajah lugu dan khusyu'nya menguleni adonan sambil sesekali menggaruk kepala dan wajahnya hingga belepotan, lucu banget! Hihihi... Rasa pening hilang semua, ketawa-ketawa berdua. Saya tertawa karena melihatnya, sedangkan Nayfah tertawa karena melihat saya tertawa :D



 Orang lain mungkin akan marah ketika anak-anaknya menumpahkan tepung. Saya pun awalnya begitu, sedikit kesal ketika Nayfah menumpahkan banyak sekali tepung ke adonan clay. Tapi kemudian saya sadar, itu bukan karena kesengajaan, tetapi karena ketidaktahuannya. Karena itu, saya mulai mengajaknya bermain dengan media sungguhan. Memberitahunya mengapa tepung tak boleh terlalu banyak, mengapa menggunakan susu, mengapa harus dioven, dll.

Pie susu baru matang. Kurang rapi bentuknya, tapi tak
mengurangi kelezatannya :)

Saya biasanya menggunakan resep-resep sederhana saat memasak dengan Nayfah. Pie susu adalah salah satu favoritnya. Semoga blog ini bisa menginspirasi untuk berkreasi bersama si kecil :)

Comments

Popular posts from this blog

Crochet Toddler Dress Pattern

Hello, there!  Since there were many people asking me for the written pattern, I translated the pattern to a pdf (consisting diagrams, written pattern and step-by-step tutorial). Here are the pattern:   Crochet Toddler Dress Pattern Translated by Novelia Ummu Nayfah (La Léh Crochet)  Materials: Bali cotton yarn in green (2 cakes of @100 grams), white (2 cakes  of @100 grams), and small amount of yellow. FYI, the texture of bali cotton yarn looks like bamboo yarn. You may use other sport-weight yarns. Hook: 4/0 Tulip Etimo Rose hook (2.50 mm) Thread and sewing needle (you may use hot-melted glue) Synthetic flowers (you may use  this flower  as accessory) Stitches: Slip stitch (sl st) Chain (ch) Single Crochet (sc) Double crochet (dc) 2dc, ch 2, 2dc  shell 5dc  solid shell Rep: repeat Beg: beginning dc2tog dc3tog Finished size: Waist (circle)  :           21.5" Length             :           22" *This is approxima

Karakteristik Benang Rajut

Di Indonesia, benang yang paling popular adalah benang acrylic wool , atau yang lebih familiar disebut “benang siet”. Namun, sebenarnya jenis benang sangat bervariasi. Berikut diantaranya: 1.       Benang katun ( Cotton yarn ) Sesuai namanya, benang yang umum digunakan oleh para pemula ini terbuat dari serat kapas. Benang katun bersifat dingin, mudah menyerap keringat, lentur, kuat, ringan, dan memiliki banyak varian warna. Benang ini termasuk “benang multiproject ”, karena bisa digunakan untuk berbagai macam jenis rajutan. Misalnya, bros, bandana, pinggiran kerudung, syal, tatakan gelas, tas, sepatu, sandal, dan sebagainya. Berdasarkan varian warnanya, benang katun dibagi menjadi dua kelompok, yaitu plain (polos) dan ombre (warna sembur/gradasi). Tingkat kehalusannya pun berbeda-beda antara jenis benang katun yang satu dengan yang lain. Soft cotton , misalnya, adalah yang paling halus diantara benang berbahan dasar kapas. Sementara itu, satu tingkat di bawahnya, ada katun b

Bagaimana Menghitung Harga Rajutan?

Bagaimana sih, menentukan harga untuk hasil rajutan kita? Perajut A harganya sekian, perajut B sekian, sedangkan perajut lainnya sampai X, Y, Z harganya juga berbeda. Nasehat saya: jangan pernah menjadikan harga orang lain sebagai patokan. Takut kalah saingan dengan yang menjual dengan harga murah? Padahal mungkin saja mereka baru bisa merajut. Jadi, harga dibuat semurah mungkin supaya cepat balik modal dan mereka bisa terus merajut.Bisa juga karena mereka memproduksi secara massal, dengan mengupah orang lain dengan gaji sangat rendah. Hasilnya? Anda bisa melihat rajutan-rajutan yang dijual di pasar yang harganya amat sangat murah sekali. Hingga orang-orang akan berpikir, "Untuk apa susah-susah membuat bros rajut jika kita bisa membelinya di pasar dengan harga Rp.2.000 per buah?" Beberapa perajut juga menetapkan harga tinggi. Biasanya, mereka adalah perajut-perajut yang sudah punya ”jam terbang” tinggi dan kualitas produknya memang bagus, sehingga orang