Friday, September 21, 2018

Crochet Lace Bowl Tutorial

Pekan lalu, saya mencoba membuat mini doily menggunakan benang Onitsuga Bali. Benang ini lebih kasar dari benang katun bali yang pernah saya pakai sebelumnya. Teksturnya waxed (seperti ada lapisan kanji).
But, you know what? Karena teksturnya yang agak kaku ini, hasil doily-nya jadi lebih OK walaupun tanpa proses blocking. Jika pada penggunaan katun bali umumnya (yang bertekstur lembut) saya harus mem-blocking dan menyemprotnya dengan "sesuatu" supaya bentuknya bagus, berbeda dengan Onitsuga Bali.


Oke, percobaan pertama selesai. Saya tertarik untuk mencobanya pada project stiffened crochet alias rajutan kaku. Apa itu stiffened crochet? Ehm, sudah ada penjelasan lengkapnya di buku Rajut 3D. Hihi... ngiklan :D

Ngiklaaaannn... hihi
Buku ini bisa didapatkan di Gramedia terdekat ;)

Nah, salah satu cara untuk meng-kaku-kan rajutan, yang saya sebutkan di buku, adalah dengan menggunakan lem putih. Penggunaan lem ini bisa menghasilkan permanent finish alias kaku permanen. Kakunya benar-benar kaku :D
Tapi, ada kekurangan dari penggunaan teknik ini. Apa? Selain bau lemnya yang menyengat (dan sebagian orang tidak tahan dengan bau lem ini), juga karena bahan lem yang "keras" hingga seringkali merusak warna (membuatnya menjadi pudar).


Dari beberapa percobaan sebelumnya, dengan menggunakan benang katun dari merk lain, pada hasil akhirnya warna benang berubah (luntur dan pudar).
Alhamdulillah, pada percobaan kali ini hal itu tidak terjadi. Padahal, saya menggunakan campuran murni lem putih (tanpa tambahan air).
Oya, pada percobaan kali ini, saya menjemurnya di bawah sinar matahari langsung, selama 2 jam.

Ingin mencobanya juga? Yuk simak caranya:
Step 1: siapkan cetakan. Bisa apa saja, tapi kali ini saya pakai 2 buah mangkuk yg ditumpuk jadi satu, lalu diberi perekat agar tidak bergeser.
Step 2: bungkus cetakan menggunakan plastic wrap. Abaikan penampakan tangan Fatih 👋
Di wadah terpisah, siapkan doily dan white glue. Boleh merk apa saja, yg penting jenis white glue. Aplikasikan sedikit demi sedikit, hingga seluruh permukaan rajutan berbalut lem.
Oya, ada cerita lucu saat saya membeli lem ini. Pagi itu...

"Ada lem Fox, Pak?"
"Lem seperti apa itu, Bak?" (Serius, di Madura pengucapan 'mbak' tanpa 'm' di awal).
"Yang biasa dipakai untuk kayu atau plamur tembok, warnanya putih."
"Oooo... itu namanya lem POK," kata si bapak, lalu menyuruh pegawainya mengambilkan apa yang saya cari.

Nilai moral dari cerita di atas adalah: Berbicaralah dengan lidah Indonesia ^_^ Eh tapi beneran, lho.. kita harus menyesuaikan lidah kita dengan lidah masyarakat setempat. Seperti saat kami masih tinggal di Tangerang, saya melihat beberapa sisir pisang di sebuah warung penjual buah.
"Pisang Sunpride-nya ada, Pak?" (perhatikan pengucapannya ya.. Sunpride=sanpraid)
"Pisang apa?" tanya sang penjual buah.
"Sunpride," jawab saya.
"Kaya gimana itu?" Ia balik bertanya.
"Itu, Pak.. pisang yang ada stiker-nya," (saya ga tau mau menjelaskan bagaimana, yang ada di benak saya saat itu hanya stiker).
"Oh.. itu mah SAMPRET. Ada, baru aja dateng. Belom sempat digantungin," jawab pak penjual buah ^_^



Lanjut lagi tutorialnya: Cetak rajutan, lalu jemur di bawah sinar matahari sekitar 1-2 jam.
P.S: saya menjemur rajutan sekitar jam 12 sampai jam siang.

Alhamdulillah selesai! Supaya bentuknya lebih bagus, bagian tepi
doily ditekuk ke arah luar.


Semoga tutorial kali ini bermanfaat. Selamat mencoba, dan jangan lupa Like fanspage La Leh Crochet untuk update project-project rajutan lainnya.
Untuk yang tertarik untuk membeli benang Onitsuga Bali, juga bisa membelinya secara online melalui page dan Shopee.

Barakallah fiikum ^_^

2 comments:

Emma Darmawaty said...

Di tunggu tutorial berikutnya����

Unknown said...

Sy tunggu tutorial selanjutnya