Skip to main content

Bagaimana Menghitung Harga Rajutan?

Flash back ke beberapa tahun lalu, saat Nayfah masih berusia sekitar lima atau enam bulan. Saat itu,saya masih baru berkecimpung di dunia rajutan. Bermodal beberapa gulung benang yang dibeli di pasar, sebuah hakpen besi dan niat kuat untuk mendapat rupiah dari hasil kreasi saya.

Ya. Dulu saya terobsesi untuk bisa mendapatkan uang, karena seseorang mengatakan sesuatu yang menurut saya tak pantas dan tak sopan dilontarkan.
"Jadi wanita itu jangan cuma bisa nadahin tangan sama suami. Tuh, lihat anak perempuanku. Dia bekerja, tak hanya bergantung pada suaminya!"

Bisa dibayangkan, bagaimana perasaan saya saat itu? Hancur. Merasa sangat tak berharga, tak lebih dari seorang pengemis. Saya berpikir, bagaimana cara agar bsa mendapatkan uang tanpa harus keluar rumah? 

Ya, saya yang dahulu pernah menolak tawaran dari seorang teman untuk membantu mengajar di sebuah universitas negeri, terlanjur terikat kesepakatan dengan suami sebelum menikah. Bahwa tanggung jawab nafkah adalah tanggung jawab suami, sedangkan saya cukup diam di rumah mendidik anak-anak kami.

Ah... jadi curhat.


 
Singkat cerita, terbesit ide untuk menekuni rajutan. Keterampilan yang satu ini cukup mudah bagi saya. Tak perlu modal banyak, cukup hakpen dan benang.

Gayung bersambut, Papa memberi modal untuk memulai usaha ini. Saya masih ingat, dulu saya sangat malu meminta uang pada suami (apalagi dengan kata-kata "cuma bisa nadahin tangan sama suami" itu selalu terngiang dalam benak saya). Saat itu, karena kepepet tidak punya modal sama sekali walau hanya untuk membeli segulung benang, akhirnya saya menceritakan pada Papa tentang niatan memulai usaha. Papa memberi modal yang nominalnya sangat-sangat cukup untuk sekedar membeli beberapa pack benang, hakpen dan manekin. 

Sayangnya, keterampilan saya tidak berbanding lurus dengan pengetahuan tentang cara menghitung harga. Dulu, sekitar tahun 2012, untuk sebuah syal berbahan katun sembur, saya menjualnya sekitar 15.000. Gila? Hahaha... kalau dipikir-pikir, mungkin iya. 
 
Pantas saja banyak order, karena saat itu saya belum tahu cara menentukan harga. Saya hanya berpatokan pada harga benang (saat itu sekitar Rp.8.000). Saya kira harga 15.000 sudah banyak untungnya, lumayan bisa digunakan untuk membeli benang lagi. Ah.... betapa bodohnya.


Saya belajar seiring waktu. Saat ke mall, saya melihat barang-barang handmade dijual dengan harga tinggi. Saya sempat membatin, ”Emang ada orang yang mau beli?”
Ternyata banyak yang membeli. Apa lagi kalau bukan karena kualitasnya yang bagus dan model barang-barang tersebut yang unik? Dari situ saya belajar, bahwa untuk membuat produk yang berkualitas, bahannya pun harus pilihan. Harga pun akan menyesuaikan.
 
Lalu, saya pikir, seharusnya juga ada “biaya ekstra” selain menghitung harga benang dan material lainnya. Harus ada harga ketelitian, skill, dan waktu. Itulah yang tidak saya dapati dari hasil karya saya. Tidak ada biaya untuk biaya pengerjaan dan lainnya. Saya hanya berorientasi pada modal. Sekali lagi, betapa bodohnya.

Perlahan, mindset saya terbuka. Bi idznillah.

”I don’t sell yarns. I am selling my creativity. Everyone can buy yarns, but not every of them can change it into a beautiful thing.”  
Saya tak menjual benang. Saya menjual kreatifitas dan bakat saya. Semua orang bisa membeli benang, namun tak semua bisa mengubahnya menjadi benda-benda cantik.

Saya sempat vakum selama beberapa lama, karena merasa jerih-payah saya dalam merajut tidak terbayar dengan layak. Dalam beberapa bulan tersebut, saya mulai memikirkan bagaimana arah usaha yang saya rintis ini untuk kedepannya.

Mau tetap seperti itu? Atau ingin lebih maju?

Saya sampai pada kesimpulan, bahwa dalam ranah handmade ini saya akan bersaing dengan ribuan perajut lain. Apa yang kira-kira bisa membuat Customers saya suka dengan produk-produk saya? Desain, kualitas, atau... apa lagi?

Sejak saat itu, saya mulai meng-upgrade kualitas produk. Pakai benang yang berkualitas (atau setidaknya standard), dan mulai membuat desain-desain yang unik. 




Di tahun 2014, saya mulai merintis usaha saya di Etsy. Lagi-lagi, ini karena kemudahan yang Allah berikan. Disana, saya bersaing dengan para pengrajin dari seluruh dunia. Kualitas produk wajib yang terbaik.

Oya, daripada semakin panjang, langsung saja kita bahas tentang formulasi harga. Di Etsy, jika kita hendak memasukkan harga produk, akan keluar catatan kecil: 
Materials + Labor + Expenses + Profit = Item Price
Penjelasan terperinci tentang rumusan harga ini saya bahas di sebuah video, agar lebih mudah dipahami:



Secara ringkas, rumus penghitungan harga adalah:

Harga Modal = bahan + ongkos pengerjaan + biaya lain-lain (pemeliharaan, snacking, ads, listrik, dll)
Harga Jual = Harga modal + Profit (%)

Masih bingung tentang rumus di atas? Insyaallah penjelasan di video lebih mudah dimengerti. Yuk, belajar menghitung harga untuk hasil karyamu! Jika bukan kita yang menentukan harga yang layak untuk karya kita, bagaimana mungkin kita berharap orang lain akan menghargainya?

Salam kreatif, semoga artikel ini bermanfaat untuk Teman-teman yang masih bingung cara menentukan harga rajutan atau produk handmade lainnya.

Barakallahu fiikum,
Novelia Ummu Nayfah.

 

Comments

Shafana said…
Dlu pernah bkin bros rajut,tp cm krn dbandingkan akhirnya mundur deh dr perajutan..hehee
Tinggal d kota mn mbak?
Ummu Nayfah said…
Wah... Sayang bakatnya, mbak :)
Sy di Tangerang. Silakan mampir ke page sy: www.facebook.com/LaLehCrochet.

Salam rajut ^_^
Unknown said…
Halo mbak! Saya senangnya sekali merajut walaupun masih yg sederhana-sederhana. Pinginnya membuat macam-macam (tas,Bros,book cover,taplak meja,bantal kursi DLL) tapi abis itu saya taruh begitu aja. Oh ya saya buat topi dan sepatu bayi karena terinspirasi kehadiran cucu perempuan. Niatnya menjual hasil rajutan saya tapi karena masih sederhana-sederhana jadi belum pede.kalo semangat merajut sangat semangat tak ada hari Tampa merajut. Tolong dong mbak masih tahu Cara agar saya pede menjual hasil kerajinan tangan Dan dimana bisa menjualnya. Thanks!
Unknown said…
Halo bu Getty,
Untuk menjual, bisa lewat media sosial (facebook, twitter, instagram, dll) dan fjb (Forum jual beli, seperti Kaskus, Tokpedia, OLX, dll).
Cara supaya PD, kita harus yakin dg hasil keterampilan kita, Bu. Tidak semua orang bisa mengubah benang menjadi sesuatu yang indah. Hanya tangan-tangan terampil yang bisa melakukannya :)
Semangaaattt...!!! ^_^
Unknown said…
This comment has been removed by the author.
Unknown said…
Dapat pencerahan baru nih hehee...
Terimakasih ya mbak😊
Unknown said…
Oiya mbak, saya baru mau berencana Kalau saya ingin menitipkan rajutan saya ketoko, tapi saya bingung mau mmberikan hargajual ketoko tersebut. Ini saya ada perhitungan, semisal saya titip 1set isi 6 buah bros kemudian saya berikan potongan sebesar 10% perset bagaimana? Kira" toko yg saya titipin itu mau atau tidak ya mbak? Mohon balasannya, terimakasih πŸ˜‰
Unknown said…
Oiya mbak, saya baru mau berencana Kalau saya ingin menitipkan rajutan saya ketoko, tapi saya bingung mau mmberikan hargajual ketoko tersebut. Ini saya ada perhitungan, semisal saya titip 1set isi 6 buah bros kemudian saya berikan potongan sebesar 10% perset bagaimana? Kira" toko yg saya titipin itu mau atau tidak ya mbak? Mohon balasannya, terimakasih πŸ˜‰
Unknown said…
Bisa dg cara begitu, mbak. Istilahnya kaya konsinyasi gitu yah. In syaa Alloh mau kok, dulu sy juga seperti itu :)
Irma said…
Assalamualaikum mba,
semua pekerjaan merajutnya dikerjakan sendiri atau ada pegawainya?
kl misalnya ada, perhitungannya jadi bagaimana?
terimakasih mba
wassalamualaikum
Unknown said…
Wa'alaykumussalam,
Untuk menjaga kualitas, semua sy kerjakan sendiri, mbak. Kalau misalnya memakai asisten, sebaiknya tentukan di awal ttg upahnya... apakah dg sistem prosentase atau gaji fix. Jika gaji fix, masukkan hitungan nya ke expenses.
Kalau sistem prosentase (asisten dpt sekian persen dari profit), maka nanti yg di-mark up adalah harga retail nya.

Semoga bermanfaat ;)

Salam,
Ummu Nayfah.
Priyono Rahmat said…
luar biasa tulisannya..sangat bermanfaat sekali. inshallah kedepannya saya juga niat mau posting sekitar rajutan. boleh mampir ke blog saya. www.goodpriy.blogspot.com
ohya mbak...kira2 mekanismenya gimana cara produk kita bisa diliat sama masyarakat internasional..apakha ada link2 khusus yg mbak tau?

terimaksih. salam

rahmat
Priyono Rahmat said…
luar biasa tulisannya..sangat bermanfaat sekali. inshallah kedepannya saya juga niat mau posting sekitar rajutan. boleh mampir ke blog saya. www.goodpriy.blogspot.com
ohya mbak...kira2 mekanismenya gimana cara produk kita bisa diliat sama masyarakat internasional..apakha ada link2 khusus yg mbak tau?

terimaksih. salam

rahmat
Unknown said…
Share di pinterest saja Pak, link nya: www.pinterest.com.
Ada aplikasinya juga.
Unknown said…
Assalamualaikum mbak,

Ketika mbak mulai bisnis merajut ini, Untuk 1 hari kira-kira berapa rajutan yg mbak selesaikan?
Apakah ada target berapa rajutan yg harus diselesaikan dalam 1 hari?

Terimakasih mbak

Wassalamualaikum
Novelia said…
Wa'alaykumussalam,
Untuk saat ini sy tidak menentukan harus berapa project per hari, mba. Krn sibuk dengan anak-anak dan perkerjaan rumah tangga. Kalau dulu saat masih concern di bisnis rajutan sebagai produsen, sy target sehari 1 lusin aplikasi bros (belum finishing). Jadi nanti kalau ada yg pesan baru dijahit atau dipasang penitinya.

Kalau sekarang sy fokus mendesain pola, untuk dijual di Etsy. Lebih santai dan praktis, yg mau membeli bisa langsung download lewat Etsy. Sy tinggal nerima pembayarannya :D

Kalaupun membuat rajutan, sy utamakan utk dijual ke luar negeri. Lebih layak harganya..

Mampir ke toko sy mba:
LaLehCrochet.Etsy.com
Nurul said…
Bismillah. Assalaamu'alaikum ummu nayfah, saya jg perajut, saya dah baca tulisan mbak lebih dari sekali....bagus banget.... menginspirasi untuk percaya diri.... mampir mbak ke blog sederhana saya. umncraft.blogspot.com.
Unknown said…
Itu yg 4.800 dari mana ya? Mohon bantuan. Maksih yaa
Anonymous said…
Wah, terima kasih, Kak. Rumusnya sangat detail dan dapat dipertanggung jawabkan...

Senang sekali, akhirnya dapat pencerahan πŸ˜…
Anonymous said…
Terimakasih yaa kak, akhirnya gak galau lagi mau menentukan harga
Unknown said…
Thx banget sarannya,pas aku butuh bangetπŸ™πŸ˜Š

Popular posts from this blog

Crochet Toddler Dress Pattern

Hello, there!  Since there were many people asking me for the written pattern, I translated the pattern to a pdf (consisting diagrams, written pattern and step-by-step tutorial). Here are the pattern:   Crochet Toddler Dress Pattern Translated by Novelia Ummu Nayfah (La LΓ©h Crochet)  Materials: Bali cotton yarn in green (2 cakes of @100 grams), white (2 cakes  of @100 grams), and small amount of yellow. FYI, the texture of bali cotton yarn looks like bamboo yarn. You may use other sport-weight yarns. Hook: 4/0 Tulip Etimo Rose hook (2.50 mm) Thread and sewing needle (you may use hot-melted glue) Synthetic flowers (you may use  this flower  as accessory) Stitches: Slip stitch (sl st) Chain (ch) Single Crochet (sc) Double crochet (dc) 2dc, ch 2, 2dc  shell 5dc  solid shell Rep: repeat Beg: beginning dc2tog dc3tog Finished size: Waist (circle)  :           21.5" Length             :           22" *This is approxima

Karakteristik Benang Rajut

Di Indonesia, benang yang paling popular adalah benang acrylic wool , atau yang lebih familiar disebut “benang siet”. Namun, sebenarnya jenis benang sangat bervariasi. Berikut diantaranya: 1.       Benang katun ( Cotton yarn ) Sesuai namanya, benang yang umum digunakan oleh para pemula ini terbuat dari serat kapas. Benang katun bersifat dingin, mudah menyerap keringat, lentur, kuat, ringan, dan memiliki banyak varian warna. Benang ini termasuk “benang multiproject ”, karena bisa digunakan untuk berbagai macam jenis rajutan. Misalnya, bros, bandana, pinggiran kerudung, syal, tatakan gelas, tas, sepatu, sandal, dan sebagainya. Berdasarkan varian warnanya, benang katun dibagi menjadi dua kelompok, yaitu plain (polos) dan ombre (warna sembur/gradasi). Tingkat kehalusannya pun berbeda-beda antara jenis benang katun yang satu dengan yang lain. Soft cotton , misalnya, adalah yang paling halus diantara benang berbahan dasar kapas. Sementara itu, satu tingkat di bawahnya, ada katun b

DIY Tutorial Cara Menjahit Baju Tidur a.k.a. Sexy Sleep Wear (tanktop dan short)

Bismillah, Akhirnya, setelah sekian lama blog ini terbengkalai, saya siap dengan project baru lagi. Rajutan? Bukan! Kali ini baju tidur 😊 Beberapa pekan lalu, saya membongkar koleksi perca. Perca berbagai ukuran banyak menumpuk disana. Hehe... khas crafter lah, sayang kalau perca dibuang begitu saja. Di antara tumpukan itu, saya menemukan sehelai kain yang lumayan lebar, sisa membuat kerudung Nayfah tahun lalu. Awalnya bingung mau dibuat apa. Hingga akhirnya, terlintas ide untuk mencoba membuat baju tidur yang terlihat cute . Setelah browsing sana-sini tentang cara membuat tanktop dan celana pendek, saya beranikan diri untuk praktek. Tak disangka, saat saya menunggahnya di akun facebook dan instagram , banyak sekali yang mengapresiasinya. Karena itulah, saya buat pola dan tutorialnya; agar semua istri bisa membuat "baju anti pelakor"-nya sendiri. πŸ˜„ Target awal saya, setidaknya sepekan setelah upload foto tersebut, saya akan memposting polanya. Qodarullah, ternyata mouse rus